Awal April 2025 menjadi titik awal program gerakan hijau di Kampung Loki, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Warga berkumpul bersama pemerintah kampung dan Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan Penanaman Pohon Serentak. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan, termasuk pemuda, pelajar, dan kelompok ibu-ibu.
Bibit pohon mulai ditanam sejak pagi. Mereka menyebar ke lahan kosong, halaman sekolah, jalan desa, dan pekarangan warga. Total ada 500 bibit pohon yang ditanam dalam satu hari. Jenisnya meliputi mangga, mahoni, ketapang, sukun, serta beberapa pohon khas Maluku.
Tujuan utama kegiatan ini bukan hanya menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran. Warga diajak melihat pentingnya menjaga keseimbangan alam. Pohon memiliki banyak fungsi. Selain menghasilkan oksigen, pohon juga mencegah banjir, menyerap air hujan, serta menyaring polusi.
Kepala Kampung Loki, Bapak Yulius Pattiradjawane, menyampaikan bahwa pohon adalah investasi jangka panjang. Ia menekankan bahwa satu pohon hari ini akan bermanfaat untuk anak cucu di kemudian hari. Oleh karena itu, penanaman ini bukan sekadar seremonial, melainkan aksi berkelanjutan.
Pelajar dari SD hingga SMA ikut menanam sambil belajar langsung di lapangan. Para guru menjelaskan manfaat setiap jenis pohon. Anak-anak pun tampak semangat dan saling membantu menggali lubang, menanam bibit, lalu menyiram dengan air.
Sementara itu, ibu-ibu PKK membawa bibit pohon buah seperti jambu dan sirsak. Mereka memilih lokasi di dekat rumah agar bisa dirawat setiap hari. Beberapa ibu bahkan mencatat jadwal penyiraman secara rutin. Semangat mereka menular ke warga lainnya.
Bukan hanya itu, mahasiswa pecinta alam dari Ambon ikut membantu kegiatan ini. Mereka datang membawa bibit tambahan dan turut mendampingi peserta saat menanam. Selain berbagi ilmu, mereka juga mempererat tali silaturahmi antarwilayah.
Warga Kampung Loki sangat mendukung gerakan ini. Bahkan beberapa orang tua mendorong anak-anaknya untuk terus merawat pohon yang mereka tanam. Hal ini menciptakan rasa tanggung jawab sejak usia dini terhadap alam sekitar.
Gerakan Hijau yang Menyatukan Banyak Pihak
Kegiatan penanaman pohon berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat. Pemerintah, sekolah, komunitas lokal, hingga kelompok pemuda semua bekerja sama. Mereka memiliki satu tujuan: membuat Kampung Loki lebih hijau, sejuk, dan sehat.
Pak Abraham, seorang petani berusia 60 tahun, menanam lima pohon mahoni di kebunnya. Ia mengatakan bahwa pohon akan menjaga tanah tetap subur. Selain itu, pohon juga membantu mempertahankan kelembapan di musim panas.
Di sisi lain, pelajar SMA bernama Rina merasa senang bisa berpartisipasi. Ia menanam pohon sukun di halaman sekolah. Menurutnya, kegiatan ini membuat dirinya lebih peduli terhadap lingkungan. Ia berjanji akan merawat pohonnya sampai besar.
Kebersamaan juga tercipta di dapur umum yang disiapkan oleh kelompok ibu-ibu. Mereka memasak bersama untuk seluruh peserta kegiatan. Sambil membungkus makanan, mereka berbagi cerita masa kecil tentang hutan yang dulu masih lebat.
Panitia menyediakan kotak saran untuk menampung masukan warga. Hasilnya, banyak yang menginginkan program ini menjadi agenda tahunan. Bahkan ada usulan lomba kampung terhijau dengan hadiah alat pertanian ramah lingkungan.
Kepedulian warga meningkat signifikan setelah kegiatan ini. Beberapa orang mulai membersihkan lahan kosong di dekat rumah mereka. Bahkan, ada kelompok pemuda yang mulai membuat taman mini dengan pot tanaman bekas.
Dinas Lingkungan Hidup juga berjanji akan terus mendukung kampung seperti Loki. Menurut mereka, perubahan harus dimulai dari bawah. Ketika kampung menjadi hijau, maka kota juga akan ikut sehat dan berkelanjutan.
Gerakan ini juga mengundang perhatian dari kampung tetangga. Beberapa tokoh masyarakat dari desa sebelah datang untuk melihat langsung kegiatan. Mereka tertarik untuk mengadakan program serupa dalam waktu dekat.
Langkah Sederhana Menuju Alam yang Lebih Ramah
Penanaman pohon serentak di Kampung Loki memang terlihat sederhana. Namun dampaknya sangat luas. Selain mengubah lanskap kampung, kegiatan ini juga mengubah cara pikir warga. Mereka kini lebih sadar bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama.
Pohon-pohon kecil yang ditanam hari itu kini mulai tumbuh. Beberapa sudah mengeluarkan daun baru. Warga yang melewati jalur penanaman ikut merasa senang melihat hasil kerja bersama. Suasana kampung pun terasa lebih segar dan rindang.
Pemerintah kampung merencanakan pembentukan kawasan hijau permanen. Kawasan ini akan menjadi tempat belajar, bersantai, dan berkumpul warga. Selain itu, mereka juga ingin membuat jalur pejalan kaki yang ramah lingkungan di sekitar kampung.
Kegiatan ini bukan akhir dari gerakan hijau. Sebaliknya, ini adalah langkah awal menuju masa depan yang lebih lestari. Ketika warga terus menanam, merawat, dan menghargai pohon, maka Kampung Loki akan menjadi contoh baik bagi kampung lainnya.

Tinggalkan Balasan